GSK dan Smile Train Memberikan Keluarga Karina Alasan Untuk Tersenyum di Tengah Lockdown

Smile Train

Saat anak ketiga Malianto dan Kisjayanti, Karina, lahir dengan bibir sumbing, pikiran mereka pun segera melayang menuju masa depan putrinya tersebut. Pendapatan Malianto sehari-harinya sebagai buruh harian hanya cukup untuk menghidupi seluruh keluarga – bagaimana mungkin mereka dapat membiayai operasi yang dibutuhkan oleh Karina? Bagaimana caranya Karina akan dapat masuk sekolah, membuat teman, atau bahkan menikah?

Meskipun demikian, permasalahan di depan mata harus diselesaikan sebelum berpikir jauh. Bibir sumbing Karina membuat dirinya tersedak saat minum ASI, dan ASI yang berhasil masuk pun keluar dari hidungnya. Sang ibu telah melakukan segala daya upaya untuk memastikan Karina tetap mendapatkan nutrisi yang memadai, tapi seakan tidak pernah cukup. Hal ini diperparah dengan adanya pembatasan-pembatasan terkait virus COVID-19 di seluruh Indonesia, serta tidak adanya akses internet di wilayah tempat tinggal mereka sehingga menyebabkan minimnya akses atas informasi yang mungkin dapat menyelamatkan nyawa bayinya.

Meskipun demikian, Kisjayanti dan Malianto tidak berhenti percaya bahwa Karina adalah titipan Allah dan mereka pun tak pernah berhenti berdoa untuk bantuan yang dibutuhkan oleh putri mereka. Mereka tidak akan pernah melupakan hari di mana doa mereka dikabulkan. Itu adalah hari di mana mereka bertemu dengan Endang Sasi.

Endang adalah pekerja sosial di rekanan Smile Train, yaitu Yayasan Ummi Romlah di Sumatera Selatan. Berkat Awareness Grant (hibah kesadaran) yang disediakan oleh rekanan Smile Train, yaitu GSK, uang dan jarak tidak lagi menjadi halangan bagi dirinya untuk menemukan anak-anak yang membutuhkan pengobatan bibir sumbing di wilayah dengan akses berjarak ratusan kilometer dari rumah sakit terdekat. Jadi, pada saat mantan pasien Smile Train menceritakan mengenai Karina ke Endang, tidak ada yang dapat menghalangi dirinya untuk menghubungi keluarga Karina dan menawarkan bantuan yang dapat menyelamatkan nyawa Karina.

Dengan tetap memperhatikan panduan ketat terkait COVID, Endang pun tiba di rumah Malianto dan Kisjayanti untuk menjelaskan detil mengenai bagaimana prosedur operasi bibir sumbing, protokol khusus yang diterapkan untuk melindungi pasien serta staf medis agar aman dari pandemi, serta menjawab pertanyaan apa pun yang mungkin dimiliki oleh kedua orang tua Karina. Ia pun berulang kali meyakinkan keduanya bahwa seluruh biaya operasi dan transportasi ke rumah sakit akan ditanggung oleh mereka, berkat kemurahan hati para donor GSK dan Smile Train di seluruh dunia – tetapi keduanya sulit percaya bahwa mimpi terbesar mereka untuk bayinya akan terwujud.

Karina being held by her mother, who is holding a picture of her before her cleft surgery

Mungkin mereka masih sulit mempercayainya, tetapi saat mobil dari Smile Train tiba di depan rumah mereka beberapa hari kemudian, sang supir menemukan mereka sudah berdiri di luar rumah dengan tas. Ia membawa mereka ke rumah singgah di mana Karina akan menjalani penapisan pra-operasi dan keluarga mereka akan menjalani karantina 10 hari sebelum tiba di rumah sakit. Malam-malam tanpa tidur yang dijalani oleh Kisjayanti pun terbayarkan; usaha ibunya berhasil memastikan Karina untuk dapat melewati penapisan tersebut dengan hasil memuaskan dan diperbolehkan untuk menjalani operasi.

“Semua staff di rumah singgah sangat baik sekali dan benar-benar merawat kami,” ujar Kisjayanti. “Mereka menjelaskan semua yang kami tanyakan.”

Karina rides a moped after her free Smile Train-sponsored cleft surgery

“Semua staff di rumah singgah sangat baik sekali dan benar-benar merawat kami,” ujar Kisjayanti. “Mereka menjelaskan semua yang kami tanyakan.”

Bagi Endang, senyuman seperti yang diberikan oleh Karina adalah kebanggan yang tidak terkira. “Kerja sosial memberikan kebahagiaan bagi saya. Seluruh rasa tegang pun hilang saat saya melihat kebahagiaan pasien berkat senuman baru mereka,” katanya, “Terima kasih GSK dan Smile Train, untuk kebaikan dan dukungannya.”

Karina and her family after her free Smile Train-sponsored cleft surgery

“Terima kasih Smile Train, untuk mukjizat ini!” kata kedua orang tuanya.

Dapatkan Info Terbaru Smile Train

Anda mungkin akan menyukai…

Patient

Rahmad dibully setiap hari saat datang dan pulang sekolah. Seperti banyak orang sumbing...

Patient

Pada bulan Juni 2021, Smile Train Indonesia, Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Plastik...

Patient

Mustika merasa ada sesuatu yang salah sepanjang kehamilannya. Ia tidak dapat mengetahui...